Pages

Monday, April 02, 2012

Inspirasi dari seorang Manny Pacquiao


Apa mimpi masa kecil anda ? Mari mengenang masa lalu sejenak, dulu saat kita masih anak-anak, terkadang jawaban pertanyaan ini sangat  simpel dan penuh dengan fantasy.
Minggu lalu, saat pulang ke Jakarta, anak pertama saya, Erica Londong, bulan lalu usianya enam tahun, saat saya tanyakan ini, jawabannya singkat jelas , " Saya ingin jadi dokter anak". Kami memiliki dokter yang memang sudah dekat, ah ... barangkali bu dokter ini yang membentuk fantasy Erica. Kembali ke masa lalu kita, dulu kita ingin jadi Tentara, Polisi, Jaksa, Pilot, atau mungkin Sopir Truck. What ever ... Saat ini, saya kembali bertanya hal yang sama,  saya yakin logika kitalah yang lebih banyak berbicara. Saat melewati expired date mimpi fantasy kita, mimpi atau cita-cita masa kecil sudah menjadi bagian  dari masa lalu. Pertanyaannya, apakah kita tidak diperbolehkan memiliki mimpi  lagi ?

Tahun 2000-an saya coba kerja part time menjadi sales kartu kredit, dan sebelum kerja di Denpasar, september 2010, tentunya saya lakukan ini diluar jam kerja normal. Sempat juga ikut pelatihan jadi agen asuransi (meski tidak kesampaian ngejalaninnya). Saya melihat begitu ketatnya persaingan dalam bisnis ini, para agen dibekali pelatihan tidak hanya knowledge, malah porsi terbesar lebih pada attitude, yaitu mentalitas kerja. Untuk menumbuhkan motivasi, agen dilatih untuk dapat meng-imginasikan mimpi. Hingga mimpi ini begitu dekat dengan realitas, sehingga muncul istilah “ Bukan mimpinya, tapi masalahnya ada di bagaimana menggapainya “.  Nothing Impossible. Saya salute dan memberikan apresiasi sangat tinggi pada orang-orang di bisnis ini, Sales Credit Card, Agen Asuransi dan sales property .


Bagaimana dengan anda ? Apakah anda masih memiliki mimpi  ? Ataukah mimpi anda sudah hilang tertimbun sulitnya memenuhi kebutuhan hidup ?Atau mimpi anda hilang tertelan oleh bisingnya mesin-mesin pabrik ? Ataukah mimpi anda hilang tertelan keputus asaan karir ? Iwan Fals lewat syair lagu mengungkapakan " Haruskah mimpi itu kita beli ...". Lupakan  pembicaraan tentang “mimpi” barusan, Saya ajak anda melihat  ini dari sisi yang lain.

Sambil menulis saya juga bertanya ke diri sendiri, “ Apa mimpimu Dedy ?”, saya berhenti sejenak, oh my God ,ternyata saya juga tidak punya mimpi ! Saya akan memasuki usia 35 di Tahun ini, ternyata derasnya arus kehidupan membawa saya pada suatu kesadaran bahwa mimpi itu bukan realita. Setengah tidak percaya, saya coba pejamkan mata dan masuki memori terdalam untuk memastikan benarkah saya sudah tidak memiliki mimpi, hasilnya …. Kosong. Saya tetap tidak menemukannya.

“Lho lantas motivasi apa yang membawa saya sanggup terpisah jarak sepanjang 1184 Km dari keluarga, Jakarta - Denpasar PP setiap minggu bukanlah ide bagus buat orang normal bukan ?”….. saya coba temukan jawabannya, dan ternyata itu bukan mimpi. Sekali lagi, motivasi saya bukanlah dari imaginasi mimpi.
Jawabannya, "Saya sangat mencintai bidang kerja ini, Saya sangat mencintai Manufacture". Saya tidak punya mimpi, tapi saya punya anak tangga yang sudah terkonsep dan mesti saya lalui setahap demi setahap untuk menngapai apa yang saya inginkan. Kembali ke pembicaraan sebelumnya, inilah sisi lain yang ingin saya sampaikan. Mencintai Profesi Kita. Inilah sumber motivasi terbesar untuk meraih apa yang kita inginkan.

Berbicara mengenai kecintaan dan totalitas, saya memiliki cerita  yang sangat menarik. Anda tahu Pac Man. Nama lengkapnya Emmanuel Dapidran Pacquiao, lebih dikenal dengan Manny Pacquiao. Lahir di Kibawe, Bukidnon, Filipina pada tanggal 17 Desember 1978. Majalah Ring menobatkannya sebagai  petinju pound for pound (antar kelas) terbaik di kolong jagad. Sejumlah nama besar di dunia tinju, diantaranya Erik Morales, Barerra, Oscar de la hoya, Ricky Haiton, Zab Judah, Shane mosley, sudah merasakan kecepatan, kekuatan pukulan, dan gaya kidalnya yang membuat geraknnya sulit ditebak. Bahkan di Filipina sendir, sosok Pac Man identik dengan sebutan “Pahlawan”. Singkat kata, semenjak di tangani oleh Pelatih Fredy Roach, perjalanan karir Manny Pacquiao  sangat indah layaknya sebuah dongeng.

Kenyataannya, perjalanan seorang Pac-Man tidak semudah dan seindah yang kita lihat sekarang. Totalitas dan kecintaannya pada dunia tinju, dikombinasikan dengan kegeniusan sang pelatih dalam melihat potensi dan mengembangkannya, akhirnya menjadikan Manny Pacquiao seperti yang kita tahu saat ini. Tahukah anda Manny Pacquiao pernah dipukul KO ? 17 September 1999, Manny Pacquiao VS Medgoen Singsurat – Thailand. Anda bisa saksikan pada vidio berikut.



Bisa anda lihat, gayanya yang  membosankan dan determinasinya yang sangat kurang. Anda juga lihat kekuatan pukulannya, seperti level asia tenggara pada umumnya bukan ? Apakah karir bertinjunya habis? 
Ternyata tidak, seperti yang kita ketahui, saat ini Pac Man memegang gelar juara di 8 kelas yang berbeda. Untuk mengingatkan, silahkan anda lihat tayangan vidio berikut. Manny Pacquiao VS Erik Morales, 18 November 2006, dalam perebutan gelar di kelas Bulu Super WBC. Anda akan melihat  begitu jelas perbedaan kekuatan manny pacquiao dengan tujuh tahun sebelumnya. 


Melihat cuplikan vidio saat melawan Morales, terlihat begitu berbeda saat tahun 1999 Pac Man di-KO oleh Singsurat. Dengan melihatnya berulang-ulang saya hampir tidak percaya dengan perubahan pada petinju Filipina ini, bukan bermaksud tidak menghargai, kondisi ini sangat berbeda dengan petinju kita , Chris John yang ( menurut saya ) dari waktu kewaktu  tidak menunjukkan peningkatan speed dan power yang significant, juga gaya bertinju yang kurang menghibur.
Apa yang dicapai oleh Pac Man, seperti keajaiban di dunia tinju meski semua orang tahu ini adalah buah dari kerja keras, dan saya yakin akan menginspirasi banyak petinju asia yang mencoba menggapai puncak karir di level dunia.

Kisah diatas juga menjadi inspirasi bagi saya. Totalitas dan kecintaan seorang Manny Pacquiao pada dunia tinju, dikombinasikan dengan kegeniusan sang pelatih dalam melihat potensi dan mengembangkannya, menjadi kombinasi luar biasa  dalam menggapai puncak tertinggi dalam karir bertinjunya.

Dari ukuran income, saya bukan siapa-siapa. Mencintai apa yang saya lakukan saat ini menjadi  modal utama saya untuk bertahan di keras dan sulitnya dunia manufacture. Saya hanya ingin berbagi, sedih melihat begitu banyak generasi muda potensial di Indonesia yang hilang ketertarikannya dalam membangun industri manufacture nasional. Singkat saja, bagi anda yang akan atau telah memasuki bidang kerja ini, cintai apa yang anda kerjakan, dan buatlah anak tangga yang riil untuk menggapai apa yang anda inginkan. Tidak ada waktu lagi untuk bermimpi & lets do it now.

Semoga Sukses

No comments:

Post a Comment